PELABUHAN PAOTERE

Rabu, 13 Juli 2011




a.      Sejarah Paotere
Paotere adalah suatu pelabuhan perahu yang terletak di Kecamatan Ujung Tanah, Makassar, Sulawesi Selatan. Pelabuhan yang berjarak ± 5 km (± 30 menit) dari pusat Kota Makassar ini merupakan salah satu pelabuhan rakyat warisan tempo doeloe yang masih bertahan dan merupakan bukti peninggalan Kerajaan Gowa-Tallo sejak abad ke-14 sewaktu memberangkatkan sekitar 200 armada Perahu Phinisi ke Malaka.
Tempat ini berada dikelurahan Busung, Kecamatan Ujung Tanah, Makassar. Untuk sampai ditempat ini, kita bisa melalui beberapa jalan di Ibukota Makassar diantaranya jalan Sabutung dan Jalan Barukang. Mungkin dibutuhkan waktu sekitar 15 menit untuk sampai ditempat, jika berangkat dari Pasar Sentral Makassar. Selain melalui jalan tersebut kita bisa melewati Jalan Tinumbu , sekitar pasar Panampu’ (daerah Tol kota Makassar).
Masyarakat Bugis-Makassar menyebut tempat ini dengan sebutan Paotere.  Paotere berasal dari Kata’otere’ yang berarti tarik tambang. Dulu, orang-orang Mandar menjadikan tempat ini sebagai tempat yang dikhususkan untuk membuat tali tambang. Pada umumnya orang Makassar, Paotere lebih dikenal dibandingkan wilayah administratif lainnya di kelurahan Busung.
Selain namanya yang khas, di sekitar wilayah ini terdapat ritual yang biasa dilakukan oleh warga setempat, khususnya para imam mesjid dan beberapa orang tua yang masih memegang teguh adat mereka. Ritual tersebut dilakukan setiap malam jumat, selepas shalat isya. Biasanya mereka melalukan doa selamatan di dalam mesjid. Setelah itu mereka akan membawa bermacam-macam kue kedermaga untuk dibagikan kepada para awak perahu atau para penumpang yang tengah beristirahat.
Selain ritual tersebut, juga terdapat pelabuhan rakyat yang ramai. Pelabuhan rakyat ini merupakan tempat berlabuhnya perahu-perahu dari berbagai pulau yang ada di Sulawesi Selatan seperti Pulau Selayar, Pulau Barang Ca’di dan Pulau-Pulau yang ada disekitar Pangkajene’ Kepulauan (Pangkep), bahkan ada juga perahu yang berasal dari berbagai pulau di Indonesia seperti Pulau-Pulau yang ada di sekitar seperti Maluku, NTT dan Surabaya.
Berdasarkan cerita warga setempat, pelabuhan Ratu ini sudah ada sejak abad ke 14 dan merupakan peninggalan kerajaan Gowa-Tallo. Konon, dulu pelabuhan Paotere kerap didatangani sekitar dua ratus armada perahu yang berukuran besar. Tapi sekarang, dengan adanya pelabuhan besar (pelabuhan Soekano-Hatta), perahu-perahu yang berlabuh semakin kurang, tetapi secara ilmiah pelabuhan tersebut merupakan pelabuhan yang dapat menampung lebih dari 200 kapal.
Sebenarnya  (menurut keterangan salah satu penduduk setempat), pelabuhan rakyat Paotere ini merupakan cabang dari pelabuhan Soekarno-Hatta.  Menurutnya, pelabuhan rakyat ini terdiri dari beberapa dermaga.  Menurut informasi yang diperoleh, ada enam atau tujuh dermaga yang masih beroperasi sampai saat ini, dulu konon katanya ada sekitar 12 dermaga. Selain  itu,  jika diliat dari atas, dermaga-dermaga yang ada dipelabuhan ini seperti sisir rambut yang berjejer. Kebanyakan perahu yang berlabuh dipelabuhan ini merupakan perahu niaga yang memuat orang-orang yang melakukan perdagangan di Makassar atau sekedar untuk bersilaturahmi dengan kerabatnya di Makassar. Sebagiannya lagi merupakan perahu-perahu nelayan yang mengangkut hasil tangkapannya dari laut.
b.      Seafood di Paotere
Ikan baronang, cepak, sunu (kerapu) dan ikan bolu (bandeng) merupakan maskot menu yang selalu disajikan baik di warung-warung tenda maupun rumah-rumah makan yang berkelas khususnya di Paotere, dan Makassar pada umumnya.
Untuk ole-ole alias buah tangan, ikan asin dari berbagai jenis ikan, seperti ikan teri, ikan sunu, ikan kakap merah (pindang), dan sebagainya dapat dibeli toko-toko yang berjejer disepanjang jalan Pelra Paotere. Sementara bagi yang hobi memancing ikan, dapat memanfaatkan dermaga TPI yang menjorok ke laut sebagai tempat memancing. Anak-anak nelayan yang selalu berseliweran di tempat itu, selalu siap persewaan kail beserta umpannya, dengan harga yang sangat murah yakni Rp 2.000 hingga Rp 3.500 per jam.
c.       Rencana Pembangunan
Jika malam tiba, beberapa nelayan menyandarkan kapalnya di pelabuhan tersebut.  Kebanyakan dari perahu yang bersandar adalah perahu yang biasa disebut sebagai lambo. Perahu ini menurut salajh seorang awak yang saya tanya, merupakan jenis perahu yang bisa mengangkut muatan seberat 10-50 ton. Badan perahu ini seperti badan perahu biasanya yang memiliki satu tiang layar. Biasanya, layar perahu lambo berlapis dibagian depan yang terdiri dari layar utama yang cukup besar dan satu layar kecil di[puncak tiang.
Selain perahu lambo yang tengah bersandar di paotere, ada beberapa perahu phinisi. Perahu ini lebih besar dari perahui lambo. Biasanya perahu ini biasanya bias memuat sekitar 20-100 ton. pada umumnya perahu phinisi perahu ini memiliki dua tiang dengan layar yang berlapis-lapis dibagian depan untuk menambah kecepatan perahu phinisi, biasanya ditambah dua layar kecil pada masing-masing puncak tiang. Dulu perahu phinisi sangat bergantung pada layar tapi sekarang layar hanya diguanakan untuk membantu perahu dalam kondisi tertentu saja, biasanya jika ombak terlalu besar.
Pelra Paotere yang sarat dengan nilai sejarah, dalam waktu dekat, bakal menjadi pelabuhan kontainer, menyusul pelabuhan kontainer Soekarno-Hatta yang sudah ada. Kendati demikian, pihak pemerintah berjanji tidak akan menghilangkan ciri khas Paotere, sehingga tetap dapat menjadi kawasan wisata.
Ide mengembangkan Pelra Paotere menjadi pelabuhan kontainer itu, berangkat dari tingginya arus frekuensi lalulintas kontainer yang masuk ke Makassar. Sehingga pihak Pelindo II harus membidik kawasan baru sebagai pelabuhan kontainer.
Namun dari hasil peninjauan itu, pengembangan pelabuhan kontainer di Paotere kemungkinan dilakukan melalui reklamasi pantai. Pertimbangannya, di pesisir pantai Paotere, terdapat kawasan yang terus mengalami pendangkalan.
Pendangkalan tersebut sangat jelas terlihat dari udara. Berkah dari pendangkalan itu, sudah tampak berupa embrio pulau.  Terlepas dari rencana pengembangan Paotere ke depan menjadi pelabuhan kontainer, pengembangan pelra ini diharapkan tidak mengganggu aktivitas dan kekhasan di daerah tersebut sebagai pelabuhan tradisional. Maklum, sejak dulu, Paotere sudah dikenal sebagai kawasan wisata pantai yang tidak kalah menariknya dengan Pantai Losari.
B.  PINISI
Pinisi adalah kapal layar tradisional khas asal Indonesia, yang berasal dari Suku Bugis dan Suku Makassar di Sulawesi Selatan. Kapal ini umumnya memiliki dua tiang layar utama dan tujuh buah layar, yaitu tiga di ujung depan, dua di depan, dan dua di belakang; umumnya digunakan untuk pengangkutan barang antar pulau. Pinisi adalah sebuah kapal layar yang menggunakan jenis layar sekunar dengan dua tiang dengan tujuh helai layar yang mempunyai makna bahwa nenek moyang bangsa Indonesia mampu mengharungi tujuh samudera besar di dunia.


Kapal kayu Pinisi telah digunakan di Indonesia sejak beberapa abad yang lalu, diperkirakan kapal pinisi sudah ada sebelum tahun 1500an. Menurut naskah Lontarak I Babad La Lagaligo pada abad ke 14, Pinisi pertama sekali dibuat oleh Sawerigading, Putera Mahkota Kerajaan Luwu untuk berlayar menuju negeri Tiongkok hendak meminang Putri Tiongkok yang bernama We Cudai.
Sawerigading berhasil ke negeri Tiongkok dan memperisteri Puteri We Cudai. Setelah beberapa lama tinggal di negeri Tiongkok, Sawerigading kembali kekampung halamannya dengan menggunakan Pinisinya ke Luwu. Menjelang masuk perairan Luwu kapal diterjang gelombang besar dan Pinisi terbelah tiga yang terdampar di desa Ara, Tanah Beru dan Lemo-lemo. Masyarakat ketiga desa tersebut kemudian merakit pecahan kapal tersebut menjadi perahu yang kemudian dinamakan Pinisi.
Ada dua jenis kapal pinisi
  1. Lamba atau lambo. Pinisi modern yang masih bertahan sampai saat ini dan sekarang dilengkapi dengan motor diesel (PLM).
  2. Palari. adalah bentuk awal pinisi dengan lunas yang melengkung dan ukurannya lebih kecil dari jenis Lamda.

Pendapat-pendapat para warga sekitar wilayah paotere:
Menurut salah satu awak perahu yang memberikan komentar tentang jenis-jenis barang yang dimuat perahunya sangat tergantung tujuan dari penumpang tersebut. Jika penumpang yang berasal dari pulau biasanya membawa hasil pertanian, perkebunan dan hasil tangkapan ikan mereka untuk dijual di Makassar. Sedangkan barang-barang yang berasal dari Makassar biasanya berupa barang-barang untuk kebutuhan dagang dan kebutuhan bangunan.
Menurut awak salah satu awak perahu, pada umumnya sekarang perahu pinisi menggunakan mesin dengan kekuatan 4 tk (kekuatannya mungkin seperti mobil truk.) dulu , waktu masih perang, perahu phinisi digunakan untuk mengangkut tenaga dan perlengkapan perang seperti senjata dan meriam. Sekarang hanya digunakan sebagai alat transportasi antar pulau saja.

0 komentar:

Posting Komentar

 
Ashar_Sulawesi © 2011 | Designed by Interline Cruises, in collaboration with Interline Discounts, Travel Tips and Movie Tickets