MUSEUM BALLA LOMPOA

Rabu, 02 November 2011 0 komentar


    A.    Latar Belakang Sejarah

Balla Lompoa di Gowa dibangun sejah tahun 1936. Setelah I Mangngi-mangngi Daeng Matutu Karaeng Bontonompo diangkat menjadi raja Gowa. Balla Lompoa menjadi tempat tinggal raja dan sebagai pusat pemerintahan.
Pada tahun 1936, Gowa mengalami perubahan dalam struktur pemerintahan. Gowa mempunyai 13 adat kebiasaan setelah itu Gowa menjadi daerah swapraja. Sebelum Balla Lompoa dibangun, terdapat sebuah tempat yang digunakan sebagai pusat pemerintahan. Tempat itu adalah kantor kontrolir onder afdeling. Yang berlokasi tidak jauh dari Balla Lompoa.
Setelah raja Gowa wafat pada tahun 1946, Andi Ijo Daeng Mattawang Karaeng Lalolang diangkat menjadi raja Gowa. Dia memerintah mulai tahun 1946-1960. Setelah masa jabatannya berakhir dia pindah ke Jongaya. Pada tanggal 9 Januari 1978, beliau meninggal di Jongaya. Makamnya terletak berdekatan dengan mesjid tua dan makam-makam raja di Katangka.
Setelah kerajaan Gowa berakhir, Balla Lompoa berubah menjadi sebuah museum. Di dalam museum ini terdapat benda-benda sejarah dan benda-benda purbakala. Misalnya, peninggalan dari raja Gowa yang pertama (Tumanurunga) peninggalan tersebut adalah Salokoa. Salokoa adalah sebuah mahkota.

     B.     Nilai Religius

Di samping mempunyai nilai historis, Balla Lompoa juga mempunyai nilai religius yang berpedoman pada falsafah hidup manusia. Masyarakat Gowa memiliki pandangan kosmologis dan berfikir bahwa hidup ini hanya tercapai bila antara makrokosmos dan mikrokosmos senantiasa terjalin hubungan harmonis.
Pandangan filosofi ini tercermin dalam rumah adar Makassar Gowa. Misalnya saja pandangan bahwa alam semestea ini secara horisontal bersegi empat (Sulapak Appak), pandangan ini tercermin dalam bentuk tiang rumah dan areal tanah. Semuanya bersegi empat. Setiap manusia juga memiliki empat elemen, yaitu tanah, api, air dan angin. Secara vertikal, kosmos itu terdiri atas langit bumim dan pertiwi, yang menjadikan angka tiga adalah angka kosmos.
Nilai religius lainnya adalah pandangan bahwa alam raya ini terdiri dari tiga susun, yakni dunia atas, tengah dan bawah. Hal ini terlihat dari bentuk rumah adat Makassar yang terdiri dari tiga bagian yaitu pada bagian atas rumah disebut loteng(Pamakkang), bagian tengah rumah (Kale Balla) dan bagian bawah rumah (siring). Terdapat pula pusat rumah yang disebut “Pocci’ Balla”.

     C.    Upacara Acerak Kalompoang

Accera Kalompoang/Gaukang adalah upacara pencucian benda-benda pusaka. Upacara ini berlangsung sejak pemerintahan Raja Gowa XIV Sultan Alauddin.

Museum Balla Lompoa kini menjadi salah satu objek wisata di kabupaten Gowa. Banyak pengunjung datang setiap tahunnya. Mereka adalah tamu negara, para turis, pelajar dan peneliti.

di bawah ini adalah video perjalanan mahasiswa UNM jurusan Bahasa Asing/Jerman ke objek wisata Museum Balla Lompoa

Benteng Roterdam

Jumat, 28 Oktober 2011 0 komentar

Nama dan Fungsi Fort Rotterdam

Nama “Benteng  Rotterdam” dan asal- usul penamaannya.
  1. Benteng Ujung Pandang karena letaknya diujung atau tanjung dan banyak ditumbuhi pohon pandan.
  2. Benteng panynyua karena bentuknya seperti penyu yang sedang merayap ke laut.
  3. Fort rotterdam nama yang diberikan oleh Belanda sesuai kota kelahiran Cornelis Spelman dinegeri Belanda.
  4. Kota Towaya, bahasa Makassar ini merupakan pusat kegiatan pemerintahan masa lalu

Fungsi:
  • Pada masa kerajaan Gowa merupakan Benteng Pertahanan.
  • Pada masa pendudukan Belanda dibawah Pemerintahan Gubernur Cornelis  Spelman sebagai markas pertahanan, komando pusat perdagangan dan sebagai pemukiman pejabat-pejabat tinggi Belanda.
  • Kadang dialihfungsikan juga sebagai penjara, seperti ketika Pangeran Diponegoro pernah ditawan di dalamnya.
  • Pada masa pendudukan Jepang sebagai pusat kegiatan penelitian ilmu pertanian dan bahasa.
  • Pada masa revolusi fisik sebagai pusat kegiatan pertahanan dalam menumpas pejuang Republik.
  • Pada tahun 1950-1969 sebagai tempat pemukiman anggota TNI.
  • Pada tahun 1970 Benteng Ujung Pandang dikosongkan, bangunan didalam kompleks dipugar dan diperindah. Dan pada tanggal 27 April 1977 Benteng Rotterdam diresmikan sebagai pusat kebudayaan Sul-Sel.


Letak Fort Rotterdam
Benteng Rotterdam letaknya di pinggir pantai kota Makassar, berseberangan dengan pelabuhan Sukarno-Hatta, serta pelabuhan penyeberangan ke Pulau Kahyangan, , kurang lebih 500 meter kearah selatan terdapat Pantai losari dan Pantai Akarena. Apabila kita menginap di area seputar pantai Losari, maka jaraknya dalam kisaran radius 2 km-an saja. Dari jalan raya, Fort Rotterdam yang juga akrab disebut benteng Ujungpandang (nama lain dari Makassar) akan mudah dikenali karena sangat mencolok dengan arsitektur era 1600 an yang berbeda dengan rumah dan kantor disekitarnya.
Temboknya hitam berlumut kokoh menjulang hampir setinggi 5 meter, dan pintu masuknya masih asli seperti masa jayanya. Dari ketinggian, bentuk benteng seperti bentuk totem penyu yang bersiap hendak masuk kedalam pantai.

Sejarah Fort Rotterdam

Benteng ini awalnya dibangun tahun 1545 oleh raja Gowa ke X yakni Tunipallangga Ulaweng. Diberi nama Pannyua (penyu) karena bentuknya seperti Penyu tampak dari atas. Bahan baku awal benteng adalah tembok batu yang dicampur dengan tanah liat yang dibakar hingga kering. Bangunan didalamnya diisi oleh rumah panggung khas Gowa dimana raja dan keluarga menetap didalamnya. Ketika berpindah pada masa raja Gowa ke XIV, tembok benteng lantas diganti dengan batu padas yang berwarna hitam keras dan diiberi nama Benteng Ujung Pandang karena didirikan di sebuah ujung yang bernama Ujung Pandang.
Kehadiran Belanda yang menguasai area seputar banda dan maluku, lantas menjadikan Belanda memutuskan untuk menaklukan Gowa agar armada dagang VOC dapat dengan mudah masuk dan merapat disini. Sejak tahun 1666 pecahlah perang pertama antara raja Gowa yang berkuasa didalam benteng tersebut dengan penguasa belanda Speelman. Setahun lebih benteng digempur oleh Belanda dibantu oleh pasukan sewaan dari Maluku, hingga akhirnya kekuasaan raja Gowa disana berakhir. Seisi benteng porak poranda, rumah raja didalamnya hancur dibakar oleh tentara musuh. Kekalahan ini membuat Belanda memaksa raja menandatangani “perjanjian Bongaya” pada 18 Nov 1667.
Dikemudian hari Speelman memutuskan utk menetap disana dengan membangun kembali dan menata bangunan disitu agar disesuaikan dengan kebutuhan dalam selera arsitektur Belanda. Bentuk awal yg mirip persegi panjang kotak dikelilingi oleh lima bastion, berubah mendapat tambahan satu bastion lagi di sisi barat. Nama benteng diubah pula menjadi Fort Rotterdam, diberi nama Fort Rotterdam karena tempat kelahiran Gub Jend Belanda Cornelis Speelman. Benteng ini kemudia digunakan oleh Belanda sebagai pusat penampungan rempahh-rempah di Indonesia bagian Timur juga dijadikan pertahanan Belanda hingga tahun 1942.
Bertepatan tahun itu, penjajah Belanda yang meninggalkan tanah jajahannya, digantikan dengan tentara Jepanng, benteng Rotterdam pun kemudian beralih fungsi menjadi pusat pendidikan dan kebudayaan yang dirintis warga Jepang.
Ketika kemerdekaan sudah direbut kembali, fungsi Benteng tersebut diteruskan, bahkan ditingkatkan menjadi museum dan pagelaran seni budaya dan bahasa asing. Bahkan ditempat ini dua club bahasa asing lahir pada tahun 1990-an yakni The Pionner dan Pannyua English Meeting Club yang dirintis para ‘guide’, untuk memberikan regenerasi keterampilan bahasa asing dan pemahaman budaya dan objek wisata.
IV.  Objek Wisata yang berada dalam Fort Rotterdam
Salah satu obyek wisata yang terkenal disini selain melihat benteng, adalah menjenguk ruang tahanan sempit Pangeran Diponegoro saat dibuang oleh Belanda sejak tertangkap ditanah Jawa. Perang Diponegoro yg berkobar diantara tahun 1825-1830 berakhir dengan dijebaknya Pangeran Diponegoro oleh Belanda saat mengikuti perundingan damai. Diponegoro kemudian ditangkap dan dibuang ke Menado, lantas tahun 1834 ia dipindahkan ke Fort Rotterdam. Dia seorang diri ditempatkan didalam sebuah sel penjara yang berdinding melengkung dan amat kokoh. Diruang itu ia disedikana sebuah kamar kosong beserta pelengkap hidup lainnya seperti peralatan shalat, alquran, dan tempat tidur.

Di kompleks Benteng Rotterdam juga terdapat museum La Galigo yang didalamnya terdapat referensi mengenai sejarah kebesaran Makassar (Gowa-Tallo) dan daerah-daerah lainnya yang ada di Sulawesi Selatan.

Benteng Ujung Pandang saat ini dijadikan sebagai kantor balai pelestarian peninggalan purbakala Makassar, salah satu bangunan terpenting yang merupakan bangunan khusus untuk tetap menjaga kelestarian benda-benda purbakala tersebut adalah Museum La Galigo, yang terdapat di sebelah kiri setelah memasuki gerbang Fort Rotterdam, dalam Museum La Galigo terdapat beberapa ruangan-ruangan penting yang juga memiliki fungsinya masing-masing :
A.    Ruang utama museum La Galigo
Ketika memasuki museum La Galigo yang saat ini dikenakan tarif Rp.3000/orang, maka akan ditemukan ruang utama dari museum La Galigo tersebut yang terdiri dari 2 lantai. Dari ruang utama museum tersebut, akan langsung ditemukan benda-benda peninggalan sejarah yang terpampang disepanjang ruangan. Diantara benda-benda sejarah tersebut adalah:
  • Foto Sultan Hasanuddin dan Cornelis Spelman
  • Replika dan miniatur tongkonan, rumah adat Toraja.
  • Replika dan miniatur candi Borobudur.
  • Erong, peti mayat orang suku Toraja terbuat dari batu uru.
  • Maket dan miniatur Balla Lompoa.
  • Replika arca Buddha dan arca Garuda.
  • Kapak lonjong, kapak persegi, gerabah dan berbagai macam manik-manik.
  • Batu ike asal Palu, digunakan untuk membuat pakaian yang terbuat dari kulit kayu.
  • Kapak dan Teja asal Jawa tengah, berfungsi sebagai benda upacara.
  • Dan berbagai macam jenis uang. Baik uang kertas maupun logam. Dan juga terbuat dari berbagai macam bahan, mulai dari tembaga, logam, perak, bahkan tidak jarang yang terbuat dari emas.

B.     Ruangan Arkeologi
Dalam ruangan Arkeologi ini terdapat beberapa benda-benda Arkeolog (bukan buatan tangan manusia) zaman dulu yang masih dijaga dan terdapat dalam museum La Galigo. Contoh-contoh barang Arkeolog yang masih tersimpan dalam museum La Galigo antara lain:
1.      Fosil kerang asal kabupaten Barru
2.      Fosil kayu asal kabupaten soppeng
3.      Fosil vertebrata yang merupakan tulang binatang asal Soppeng
4.      Arca Terrakotta, arca ini ditemukan di Desa Banyorang, Bulukumba, saat masyarakat menggali sumur. Dipercaya masyarakat Bulukumba memiliki kekuatan magis sebagai penolak bala dan peminta hujan.
5.      Lempang batu dan dakon asal kabupaten Soppeng
6.      Batu Menghir asal Kabupaten Tanah Toraja
7.      Batu Pakee asal kabupaten Sinjai
8.      Alat serpih sebagai alat pemotong asal kabupaten Barru
9.      Mata panah untuk berburu ditemukan d desa Sikulung Kec. Somba Opu Kab. Gowa

C.     Ruangan kerajaan Gowa
Kerajaan Gowa adalah salah satu kerajaan yang besar di Sulawesi Selatan pada abad 15-16. Wilayah kekuasaanya kalimantan timur, maluku bahkan sampai di Australia utara. Ibu kotanya adalah Somba Opu terletak disebelah selatan Kota Makassar.
Bukti-bukti kebesaran Kerajaan Gowa di masa lampau masih dapat dilihat berupa bangunan monumen, mesjid, kompleks pekuburan dan naskah cerita rakyat yang juga masih terpelihara dalam museum La Galigo.
Berikut beberapa benda-benda kerajaan Gowa yang tersimpan di museum :
1.      Salakoe
2.      Sudanga
3.      Salempang
4.      Ponto Janga-jangayya
5.      Payung Ubu-uburu
6.      Payung La’lang sipue
7.      Peralatan makan (Bosara, piring dan gelas)
8.      Peralatan tidur (Katinroang)
9.      Lemari
10.  Silsilah kerajaan
11.  Peta  kekuasaan
12.  Maket Istana Gowa
13.  Naskah Perjanjian Bongaya tahun 1667

D.    Ruangan kerajaan Bone
Kerajaan Bone adalah salah satu yang besar pengaruhnya di Sulawesi Selatan yang mulai berdiri pada abad 14. Ibu kotanya adalah Lelebata Watampone yang terletak di tepi teluk Bone.
Bukti-bukti kebesaran Kerajaan Bone dapat dilihat adanya benda-benda peninggalan, alat kebesaran (arajang) berupa naskah (lontara) maupun berupa benda seperti keris, parang, stempel-stempel Kerajaan dan model pakaian kebesaran raja.
Berikut beberapa benda-benda kerajaan Bone yang tersimpan di museum :
1.      Teddung Pulawengnge
2.      Bendera Samparajae
3.      Bendera Parangnge
4.      Bendera Ulabalae
5.      Bendera Lima Siatinge
6.      Bendera Garudae
7.      Salempang kerajaan Bone
8.      Pedang Latea Ridunu
9.      Keris Lamakawe
10.  Tombak La  Salaga
11.  Stempel, Silsilah dan Struktur pemerintahan Kerajaan Bone
12.  Foto Raja Bone (Andi Mappanyukki, Arung Palakka)

E.     Ruangan kerajaan Luwu
Dalam museum La Galigo juga menyiapkan sebuah ruangan khusus untuk benda-benda peninggalan kerajaan Luwu. Salah satu diantara benda peninggalan yang paling terkenal, dan masih tersimpan dalam museum adalah Surek La Galigo, ditulis dalam Lontara Bahasa Bugis berisikan:
·         Susunan Raja-raja Luwu
·         Pesan Matinroe Ri Tompo Tikka
·         Pesan Arung Padecenngi tanana
·         Pesan Petta Matinroe rikanana
·         Syarat-syarat yang dipenuhi kemedan perang

Berikut beberapa benda-benda kerajaan Gowa yang tersimpan di museum :
1.      Peralatan makan
2.      Ota-otang
3.      Lipa patola
4.      Bendera kamumnue
5.      Tempat tidur raja
6.      Kursi sopa terbuat dari kayu jati
7.      Bendera macangnge
8.      Struktur pemerintahan raja luwu

II.                Fort Rotterdam Masa Kini
Memasuki pintu utamanya yg berukuran kecil, kita akan segera disergap oleh nuansa masa lalu. Tembok yang tebal sangat kokoh, pintu kayu, gerendel kuno, akan terlihat jelas. Masuk ke benteng sebetulnya tidak dipungut bayaran, karena area didalam benteng tidak dijadikan museum cagar budaya yg kosong melompong. Benteng Rotterdam dijadikan kantor pemerintah yakni Pusat Kebudayaan Makassar, sehingga suasana seram yang biasa kita jumpai dilokasi tua semacam ini tidak begitu kental karena masih dijumpai manusia berseliweran kian kemari. Karena area ini dipakai sebagai kantor, sehingga kebersihan dan kerapihan lingkungan disana masih terawat cukup baik.
Sekarang ini selain dijadikan sebagai tempat wisata, Benteng Rotterdam pun dijadikan sebagai tempat untuk belajar bahasa asing ataupun pelajaran lainnya dan jika kita berkunjung pada sore hari, selain orrang-orang yang mengambil gambar Benteng Rotterdam kita juga akan melihat segerombol orang yang duduk di taman ataupun di teras bangunan Benteng untuk belajar. Bahkan Benteng Rotterdam pun dijadikan tempat untuk foto pra wedding bagi sebagian orang.
Benteng Rotterdam yang memilliki taman yang asri dibagian tengah dan depannya, menjadi lokasi Refreshing yang menyenangkan, karena itu wisatawan local, nasional maupun asing, menjadikan lokasi ini tempat refreshing yang murah meriah. Selain itu banyak kaula muda yang duduk di atas Benteng untuk melihat matahari tenggelam.

 
Ashar_Sulawesi © 2011 | Designed by Interline Cruises, in collaboration with Interline Discounts, Travel Tips and Movie Tickets